PRS atau Pressure Regulating Station adalah suatu sistem yang digunakan untuk menurunkan, mengatur, menstabilkan, dan mengamankan tekanan gas sebelum gas dialirkan ke jaringan atau peralatan pengguna.
PRS banyak digunakan pada sistem:
Natural Gas
CNG (Compressed Natural Gas)
Gas Distribution System
Boiler
Furnace
Oven
Dryer
Industrial Burner
Gas Metering System
Pada sistem CNG industri, gas dapat datang dari trailer atau storage pada tekanan tinggi. Tekanan tersebut tidak dapat langsung masuk ke burner atau jaringan pabrik, sehingga harus diturunkan terlebih dahulu menggunakan PRS.
Alur sederhananya:
CNG Trailer → Isolation Valve → Gas Filter → Heater → PRS/Regulator → Safety System → Gas Meter → Factory Pipeline → Boiler/Burner
Apa Fungsi Utama PRS?
Fungsi utama PRS bukan hanya menurunkan tekanan.
Sebuah PRS yang dirancang dengan benar dapat mempunyai beberapa fungsi sekaligus:
Pressure Reduction
Menurunkan tekanan gas dari tekanan supply menjadi tekanan yang dibutuhkan downstream.
Contohnya:
Inlet: 200 barg
menjadi:
Outlet: 3 barg
Pressure Regulation
PRS menjaga tekanan outlet agar tetap stabil meskipun terjadi perubahan:
Flow
Inlet pressure
atau:
Demand pengguna
Misalnya burner membutuhkan:
3 barg
Ketika konsumsi berubah dari:
100 Sm³/h → 400 Sm³/h
regulator harus tetap mampu mempertahankan tekanan outlet sedekat mungkin dengan set point desain.
Gas Filtration
PRS biasanya dilengkapi gas filter untuk menahan:
Debu
Rust
Scale
Metal particle
dan kontaminan lain sebelum gas masuk ke regulator atau meter.
Overpressure Protection
Jika regulator mengalami kegagalan, downstream piping tidak boleh menerima tekanan melebihi design pressure.
Karena itu PRS dapat dilengkapi:
Slam Shut Valve
Safety Relief Valve
Monitor Regulator
atau kombinasi protection system lainnya.
Gas Heating
Pada sistem CNG, pressure reduction yang sangat besar dapat menyebabkan temperatur gas turun.
Karena itu beberapa PRS membutuhkan:
Gas Heater
atau:
Water Bath Heater / Electric Heater / Heat Exchanger
untuk menjaga temperatur gas pada kondisi aman.
Gas Metering
PRS dapat dikombinasikan dengan sistem pengukuran flow.
Contohnya:
Turbine Meter
Rotary Gas Meter
Ultrasonic Meter
Electronic Volume Corrector
Flow Computer
Dengan demikian operator dapat mengetahui jumlah gas yang digunakan.
Mengapa Tekanan CNG Harus Diturunkan?
CNG disimpan dalam kondisi bertekanan tinggi agar jumlah gas yang dapat dibawa dalam satu storage menjadi lebih besar.
Tekanan CNG storage dapat berada pada kisaran tinggi, misalnya:
±200 bar
Sementara peralatan pabrik mungkin hanya membutuhkan:
0,5 bar
2 bar
3 bar
atau:
5 bar
tergantung sistem.
Jadi tidak mungkin gas dari storage langsung masuk ke burner.
Contoh:
CNG Storage 200 bar
↓
PRS Stage 1
↓
20 bar
↓
PRS Stage 2
↓
3 bar
↓
Burner Regulator
↓
100–300 mbar
↓
Burner
Nilai tersebut hanyalah contoh. Tekanan aktual harus mengikuti equipment specification dan hasil engineering.
Komponen Utama PRS
Sebuah PRS dapat terdiri dari beberapa komponen utama.
1. Isolation Valve
Isolation valve digunakan untuk membuka atau menghentikan aliran gas.
Biasanya terdapat pada:
Inlet
dan:
Outlet PRS
Valve tersebut sangat penting untuk maintenance dan emergency isolation.
2. Gas Filter
Gas filter berfungsi membersihkan gas dari particle.
Alurnya:
Gas Inlet → Filter → Clean Gas → Regulator
Tanpa filtration yang baik, kontaminan dapat masuk ke:
Regulator seat
Control valve
Turbine meter
Pilot regulator
dan menyebabkan kerusakan atau pressure instability.
3. Pressure Gauge
Pressure gauge digunakan untuk memonitor tekanan.
Biasanya dipasang pada:
PRS Inlet
Intermediate Pressure
PRS Outlet
Contoh:
PI-101 = Inlet Pressure
PI-102 = Stage 1 Outlet
PI-103 = Final Outlet
4. Pressure Regulator
Pressure regulator merupakan komponen utama PRS.
Fungsinya:
menurunkan dan menjaga pressure downstream.
Regulator dapat berupa:
Direct Acting Regulator
Pilot Operated Regulator
atau:
Dome Loaded Regulator
Pemilihannya bergantung pada:
Flow
Pressure
Required accuracy
Turndown
dan karakteristik sistem.
Single Stage vs Two Stage PRS
Single Stage PRS
Pada pressure ratio yang tidak terlalu besar, pressure reduction dapat dilakukan satu tahap.
Contoh:
10 barg → Regulator → 3 barg
Konfigurasi:
Filter → Regulator → Safety Valve → Meter → Outlet
Two Stage PRS
Untuk pressure reduction yang besar, sering digunakan beberapa tahap.
Contoh:
200 barg
↓
Stage 1 = 20 barg
↓
Stage 2 = 3 barg
Tujuan multi-stage regulation antara lain:
- membagi pressure reduction
- meningkatkan kestabilan pressure
- membantu mengendalikan temperature drop
- mengurangi beban regulator
- meningkatkan controllability sistem
Desain aktual tetap harus mengikuti calculation dan karakteristik regulator.
Apa Itu Slam Shut Valve?
Slam Shut Valve atau SSV merupakan safety device yang dapat menutup aliran gas secara otomatis ketika tekanan berada di luar batas yang ditentukan.
Contohnya:
Normal outlet:
3 barg
High pressure trip:
4 barg
Apabila regulator gagal dan pressure naik melebihi batas:
SSV → CLOSE
sehingga aliran gas dihentikan.
SSV dapat dirancang untuk kondisi:
OPSO – Over Pressure Shut Off
dan pada beberapa sistem:
UPSO – Under Pressure Shut Off
Apa Itu Safety Relief Valve?
Safety Relief Valve digunakan untuk membuang gas apabila tekanan meningkat melewati setting tertentu.
Contohnya:
Normal pressure = 3 bar
Relief setting = sesuai desain
Ketika pressure meningkat:
SRV membuka → gas dibuang ke vent system
Penentuan set pressure tidak boleh sembarangan. Harus mempertimbangkan design pressure downstream dan philosophy proteksi sistem.
Monitor Regulator
Selain SSV dan relief valve, beberapa PRS menggunakan:
Active Regulator + Monitor Regulator
Contohnya:
Regulator A = Active
Regulator B = Monitor
Jika regulator utama gagal, monitor regulator mengambil alih pressure control.
Konfigurasi ini sering digunakan pada sistem yang membutuhkan reliability tinggi.
Mengapa PRS Bisa Mengalami Penurunan Temperatur?
Ketika natural gas mengalami pressure reduction, temperatur dapat berubah akibat efek thermodynamic.
Pada CNG, penurunan tekanan yang besar dapat menghasilkan temperatur outlet yang sangat rendah.
Contohnya:
200 bar → 3 bar
Jika tidak dilakukan thermal analysis, dapat muncul risiko:
icing
condensation
seal problem
regulator malfunction
atau temperatur material terlalu rendah.
Karena itu pada beberapa PRS digunakan heater.
Fungsi Gas Heater pada PRS
Gas heater berfungsi menambahkan energi panas ke gas sebelum atau selama pressure reduction.
Contoh sistem:
CNG → Gas Filter → Gas Heater → Regulator Stage 1 → Stage 2
Heater dapat berupa:
Electric Heater
Water Bath Heater
Heat Exchanger
Pemilihan kapasitas heater harus berdasarkan calculation.
Data yang dibutuhkan antara lain:
Gas flow
Inlet pressure
Outlet pressure
Gas inlet temperature
Required outlet temperature
Gas composition
dan:
Ambient temperature
Contoh PRS Kapasitas 500 Sm³/h
Misalnya sebuah pabrik membutuhkan:
Maximum Flow = 500 Sm³/h
Supply:
CNG 200 barg
Required outlet:
4 barg
Sistem dapat dibuat secara konsep:
CNG Trailer
↓
Emergency Isolation Valve
↓
High Pressure Gas Filter
↓
Pressure Indicator
↓
Gas Heater
↓
Stage 1 Regulator
↓
Intermediate Pressure
↓
Stage 2 Regulator
↓
Slam Shut / Overpressure Protection
↓
Pressure Gauge
↓
Turbine Meter
↓
EVC
↓
Factory Gas Pipeline
↓
Boiler
Namun PRS tidak boleh dipilih hanya berdasarkan angka 500 Sm³/h.
Harus diperiksa juga:
Minimum inlet pressure
Maximum inlet pressure
Required outlet pressure
Peak flow
Regulator Cv / capacity
Gas velocity
Pressure drop
Temperature drop
Noise
Pipe size
dan:
Safety philosophy
Mengapa Minimum Inlet Pressure Sangat Penting?
CNG trailer tidak selalu berada pada tekanan 200 bar.
Saat gas digunakan:
200 bar → 150 bar → 100 bar → 50 bar → semakin turun
Kapasitas regulator berubah berdasarkan inlet pressure.
Contohnya regulator mungkin mampu memberikan:
500 Sm³/h pada Pin = 100 bar
tetapi hanya:
300 Sm³/h pada Pin = 10 bar
tergantung karakteristik regulator.
Karena itu sizing PRS harus mempertimbangkan:
Minimum usable CNG pressure
bukan hanya initial storage pressure.
PRS dan Pressure Drop
Setiap equipment menyebabkan pressure drop:
Filter
Valve
Heater
Regulator
Meter
Pipeline
Misalnya:
Supply:
8 barg
Pressure drop:
Filter = 0,3 bar
Meter = 0,2 bar
Pipeline = 0,5 bar
Jika regulator membutuhkan inlet minimum tertentu, pressure drop tersebut harus dimasukkan dalam calculation.
Kesalahan ini sering menyebabkan:
pressure outlet drop saat demand tinggi.
PRS dan Gas Velocity
Ukuran piping PRS harus mempertimbangkan gas velocity.
Pipa terlalu kecil dapat menyebabkan:
Velocity tinggi
↓
Pressure drop meningkat
↓
Noise meningkat
↓
Vibration
↓
Metering disturbance
Karena itu diameter pipa tidak selalu sama dengan connection regulator.
Regulator 1 inch dapat saja dipasang dalam system piping 2 inch apabila hasil sizing memang membutuhkannya.
PRS dan Metering System
Pada sistem industri, PRS sering digabungkan dengan gas metering.
Contohnya:
PRS → Turbine Meter → EVC
Turbine meter membaca actual gas volume.
Kemudian EVC menggunakan:
Pressure
Temperature
Gas parameters
untuk melakukan volume correction.
Output dapat berupa:
Sm³
atau unit standard volume yang ditentukan sistem.
Data juga dapat dikirim ke:
PLC
SCADA
Data Logger
atau:
Remote Monitoring System
PRS dan MRS: Apa Bedanya?
Istilah ini sering digunakan bersamaan.
PRS – Pressure Regulating Station
Fokus utamanya adalah:
pressure reduction dan pressure control.
Sedangkan:
MRS – Metering Regulating Station
mempunyai fungsi:
Metering + Regulation
Contohnya:
Gas Filter → Regulator → Turbine Meter → EVC
Dalam praktik industri, satu skid sering menggabungkan fungsi:
PRS + Metering
sehingga secara fungsi dapat disebut metering and regulating station.
PRS untuk Boiler
Salah satu aplikasi paling umum adalah boiler.
Konfigurasi:
CNG → PRS → Factory Header → Burner Gas Train → Boiler
PRS mengatur supply utama.
Sedangkan burner gas train dapat mempunyai regulator tambahan untuk menghasilkan tekanan yang dibutuhkan burner.
Contohnya:
PRS Outlet = 3 barg
↓
Burner Regulator
↓
200 mbar
↓
Burner
PRS untuk Furnace
Furnace dapat membutuhkan flow gas cukup besar dan pressure stabil.
Jika pressure berubah:
Flame berubah
↓
Temperature furnace berubah
↓
Product quality dapat terganggu
Karena itu regulator sizing dan pressure stability menjadi sangat penting.
PRS untuk Multi-Burner System
Pada sebuah pabrik mungkin terdapat:
Boiler = 200 Sm³/h
Oven = 100 Sm³/h
Dryer = 150 Sm³/h
Maka:
Total connected load = 450 Sm³/h
Kemudian perlu ditentukan:
simultaneous factor
dan:
design margin
sebelum menentukan kapasitas PRS.
Tidak selalu benar:
PRS = jumlah nameplate semua burner
tanpa mengetahui operating pattern.
PRS Redundant
Untuk fasilitas yang tidak boleh berhenti produksi, PRS dapat dibuat:
2 × 100%
Contohnya:
Train A = 500 Sm³/h
Train B = 500 Sm³/h
Normal:
Train A operating
Train B standby
Jika Train A mengalami maintenance:
Train B mengambil alih.
Konfigurasi lain dapat berupa:
2 × 50%
atau:
3 × 50%
bergantung reliability requirement.
Instrumentasi pada PRS
PRS modern dapat dilengkapi:
PI – Pressure Indicator
PT – Pressure Transmitter
TI – Temperature Indicator
TT – Temperature Transmitter
PSH – Pressure Switch High
PSL – Pressure Switch Low
DP Indicator – Filter Differential Pressure
FT – Flow Transmitter
Gas Detector
Data dapat masuk ke:
PLC
↓
HMI
↓
SCADA
Sehingga kondisi PRS dapat dimonitor secara real-time.
Parameter yang Harus Diketahui Sebelum Mendesain PRS
Minimum data yang sebaiknya tersedia:
| Parameter | Contoh |
|---|---|
| Gas | Natural Gas / CNG |
| Maximum Flow | 500 Sm³/h |
| Minimum Flow | 50 Sm³/h |
| Maximum Inlet Pressure | 200 barg |
| Minimum Inlet Pressure | 10 barg |
| Required Outlet Pressure | 4 barg |
| Inlet Temperature | 25°C |
| Minimum Ambient Temperature | sesuai lokasi |
| Gas Composition | sesuai supply |
| Pipe Size | hasil calculation |
| Design Pressure | sesuai system |
| Metering Required | Yes / No |
| Heating Required | hasil calculation |
| Redundancy | 1 × 100% / 2 × 100% |
Data tersebut kemudian digunakan untuk sizing.
Kesalahan Umum dalam Desain PRS
Salah satu kesalahan paling umum adalah memilih regulator berdasarkan:
Connection size saja.
Contohnya:
Regulator 1 inch
tidak otomatis berarti:
Flow 500 Sm³/h pasti bisa.
Regulator harus dipilih berdasarkan:
Pin
Pout
Flow
Gas SG
Temperature
dan:
Manufacturer capacity curve / sizing equation
Kesalahan lain:
- Tidak menghitung minimum inlet pressure
- Tidak menghitung pressure drop
- Tidak menyediakan gas filtration
- Tidak menghitung temperature drop
- Heater terlalu kecil
- Relief valve tidak disizing
- Tidak ada overpressure protection
- Turbine meter terlalu dekat dengan flow disturbance
- Tidak tersedia ruang maintenance
- Vent ditempatkan sembarangan
- Piping terlalu kecil
- Tidak mempertimbangkan peak demand
Maintenance PRS
PRS membutuhkan preventive maintenance.
Komponen yang perlu diperiksa antara lain:
Gas Filter
Periksa differential pressure dan kondisi element.
Regulator
Periksa set pressure, lock-up dan seat condition.
SSV
Lakukan functional test sesuai prosedur.
Relief Valve
Periksa setting dan kondisi.
Pressure Gauge
Periksa status calibration.
Transmitter
Periksa calibration.
Gas Meter
Evaluasi akurasi dan calibration interval.
Heater
Periksa heating element dan temperature control.
Indikasi PRS Bermasalah
Beberapa gejala yang perlu diperiksa:
Outlet pressure naik sendiri saat no-flow
Kemungkinan regulator creep/seat leakage.
Pressure turun ketika flow tinggi
Dapat disebabkan regulator undersize, filter tersumbat atau supply pressure terlalu rendah.
Regulator hunting
Pressure naik-turun terus-menerus.
PRS icing
Perlu evaluasi pressure reduction dan gas heating.
Flow meter tidak stabil
Periksa flow profile, regulator, vibration, meter dan piping.
Filter DP tinggi
Element mungkin tersumbat.
Diagnosis harus dilakukan berdasarkan data aktual, bukan hanya satu gejala.
Kesimpulan
Pressure Regulating Station (PRS) adalah sistem penting dalam instalasi Natural Gas dan CNG yang berfungsi untuk:
menurunkan tekanan
menjaga pressure tetap stabil
menyaring gas
melindungi downstream dari overpressure
mengendalikan temperatur
dan, bila diperlukan:
mengukur konsumsi gas.
Pada sistem CNG industri, PRS menjadi penghubung antara:
CNG bertekanan tinggi
dan:
equipment pabrik bertekanan rendah.
Sebuah PRS yang baik harus dirancang berdasarkan:
Flow + Pressure + Temperature + Gas Properties + Safety + Metering + Reliability
bukan hanya berdasarkan ukuran pipa atau connection regulator.
Tinggalkan Balasan